ANALISA PSIKOLOGI Terhadap
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
BAB I
K A S U S
Indosiar.com, Jakarta (Senin, 24.10.2011)
Misteri kasus pembunuhan sadis terhadap Hartati dan anaknya ER telah dijawab oleh kepolisian. Penemuan dua mayat ibu dan anak dalam kardus dan koper adalah kasus pembunuhan dengan motif cinta. Hartati wanita berusia 35 tahun dan anaknya ER yang baru berusia 6 tahun dibunuh oleh tersangka Rahmat yang tak lain adalah pacar korban. Tim penyidik Polda Metro Jaya bersama Puslabfor Mabes Polri akhir pekan lalu menggelar olah tempat kejadian di lokasi pembunuhan wanita dalam kardus dan koper di wilayah Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara.
Misteri kasus pembunuhan sadis terhadap Hartati dan anaknya ER telah dijawab oleh kepolisian. Penemuan dua mayat ibu dan anak dalam kardus dan koper adalah kasus pembunuhan dengan motif cinta. Hartati wanita berusia 35 tahun dan anaknya ER yang baru berusia 6 tahun dibunuh oleh tersangka Rahmat yang tak lain adalah pacar korban. Tim penyidik Polda Metro Jaya bersama Puslabfor Mabes Polri akhir pekan lalu menggelar olah tempat kejadian di lokasi pembunuhan wanita dalam kardus dan koper di wilayah Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara.
Untuk mengetahui kronologi dan mencari tambahan bukti atas peristiwa pembunuhan terhadap Hartati dan anaknya itu polisi membawa tersangka ke lokasi untuk melakukan olah TKP di rumah kontrakan korban di Jalan Poncol Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara. Ratusan warga yang penasaran berdatangan ke lokasi untuk melihat langsung wajah pelaku. Petugas mengaku menemukan sejumlah bercak darah korban di berbagai tempat, termasuk bekas anak korban yang sempat dibakar di dapur untuk menghilangkan identitas korban. Usai ulah TKP, pelaku sempat dipukul warga saat akan dievakuasi ke mobil petugas. Hujatan dan cemoohan warga tak henti-hentinya dilontarkan kepada pelaku.
Kasus ini bermula dari ditemukannya sesosok mayat wanita dalam kardus teve di wilayah kampung Bulak Koja, Jakarta Utara Jumat dua pekan lalu. Hasil identifikasi petugas ditemukan luka tusuk pada perut korban dan luka jeratan pada leher korban, diduga kuat korban tewas dibunuh sebelum dimasukan kedalam kardus dan dibuang pelakunya. Sesosok mayat wanita belia ditemukan dalam koper di pinggir jalan raya Cakung Barat, Jakarta Timur dua pekan lalu. Korban yang diperkirakan berusia sekitar 8 tahun itu kondisinya sangat mengenaskan. Polisi yang melakukan identifikasi terhadap mayat menemukan sekujur tubuh korban melepuh, sementara pada kemaluan korban sudah rusak.
Kasus ini bermula dari ditemukannya sesosok mayat wanita dalam kardus teve di wilayah kampung Bulak Koja, Jakarta Utara Jumat dua pekan lalu. Hasil identifikasi petugas ditemukan luka tusuk pada perut korban dan luka jeratan pada leher korban, diduga kuat korban tewas dibunuh sebelum dimasukan kedalam kardus dan dibuang pelakunya. Sesosok mayat wanita belia ditemukan dalam koper di pinggir jalan raya Cakung Barat, Jakarta Timur dua pekan lalu. Korban yang diperkirakan berusia sekitar 8 tahun itu kondisinya sangat mengenaskan. Polisi yang melakukan identifikasi terhadap mayat menemukan sekujur tubuh korban melepuh, sementara pada kemaluan korban sudah rusak.
FMNR Sem 3 1
ANALISA PSIKOLOGI Terhadap
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
Dua orang pelaku Jumat pekan lalu diringkus kepolisian Daerah Metrojaya di tempat kerja mereka di Sunter, Jakarta Utara. Keduanya merupakan pelaku pembunuhan sadis terhadap Hartati, wanita asal Lampung berusia 35 tahun serta anak perempuan Hartati yang baru berusia 6 tahun, Eri.
Kepolisian mengatakan, pembunuhan direncanakan Rahmat di rumah kontrakan korban di Sukapura, Jakarta Utara, 13 Oktober lalu lantaran korban menuntut pelaku untuk bertanggungjawab atas anak dalam kandungan korban dari hasil hubungan gelapnya dengan pelaku. (Tim Liputan/Sup)
Selain itu, sumber lain memberitakan tentang kronologis peristiwa tersebut. Berikut ini isi beritanya.
Sabtu, 22/10/2011 05:42 WIB
Kronologi Pembunuhan Wanita Dalam Kardus & Mayat Dalam Koper
E Mei Amelia R –detikNews
Jakarta - Aparat Polda Metro Jaya berhasil membekuk Rahmat Awifi (26), pelaku pembunuhan Hertati (35) dan anaknya ER (6) yang masing-masing korban ditemukan dalam kardus di Koja, Jakarta Utara dan dalam koper di Cakung, Jakarta Timur. Tersangka adalah pacar gelap Hertati, warga asal Lampung. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Gatot Edy Pramono mengatakan, pembunuhan diawali adanya permintaan Hertati kepada Rahmat untuk bertanggung jawab atas kehamilan Hertati yang memasuki usia kandungan 3 minggu. Usai menghabisi nyawa Hertati, Rahmat juga tega membunuh lalu membakar anak bungsu Hertati. Tersangka sendiri telah merencanakan aksi pembunuhan ini seminggu sebelumnya. Aksinya itu dibantu oleh temannya, Kriswahyudi yang juga ditetapkan sebagai tersangka.
Kepolisian mengatakan, pembunuhan direncanakan Rahmat di rumah kontrakan korban di Sukapura, Jakarta Utara, 13 Oktober lalu lantaran korban menuntut pelaku untuk bertanggungjawab atas anak dalam kandungan korban dari hasil hubungan gelapnya dengan pelaku. (Tim Liputan/Sup)
Selain itu, sumber lain memberitakan tentang kronologis peristiwa tersebut. Berikut ini isi beritanya.
Sabtu, 22/10/2011 05:42 WIB
Kronologi Pembunuhan Wanita Dalam Kardus & Mayat Dalam Koper
E Mei Amelia R –detikNews
Jakarta - Aparat Polda Metro Jaya berhasil membekuk Rahmat Awifi (26), pelaku pembunuhan Hertati (35) dan anaknya ER (6) yang masing-masing korban ditemukan dalam kardus di Koja, Jakarta Utara dan dalam koper di Cakung, Jakarta Timur. Tersangka adalah pacar gelap Hertati, warga asal Lampung. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Gatot Edy Pramono mengatakan, pembunuhan diawali adanya permintaan Hertati kepada Rahmat untuk bertanggung jawab atas kehamilan Hertati yang memasuki usia kandungan 3 minggu. Usai menghabisi nyawa Hertati, Rahmat juga tega membunuh lalu membakar anak bungsu Hertati. Tersangka sendiri telah merencanakan aksi pembunuhan ini seminggu sebelumnya. Aksinya itu dibantu oleh temannya, Kriswahyudi yang juga ditetapkan sebagai tersangka.
FMNR Sem 3 2
ANALISA PSIKOLOGI Terhadap
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
Berikut kronologi pembunuhan kedua korban oleh tersangka seperti dipaparkan Gatot di hadapan wartawan, Jumat (21/10/2011) malam.
Kamis, 13 Oktober 2011 Pada Kamis malam, tersangka yang sedang berada di rumah orang tuanya di Jalan Balai Rakyat V/8 RT 006/003 Tugu Selatan, Koja, Jakarta Utara menghubungi temannya, Kris. Rahmat meminta Kris untuk datang ke rumah kontrakan korban di Sukapura, Jakarta Utara. Rahmat meminta Kris untuk datang ke lokasi untuk mengambil surat keterangan sakit. Rahmat yang bekerja di sebuah pabrik jok di kawasan Sunter, Jakarta Utara itu berniat untuk tidak masuk pada Jumat (14/10). Setibanya di kontrakan, tersangka Kris diminta menunggu di luar kontrakan bersama ER. Sementara Kris menunggu di luar bersama ER, Rahmat menyetubuhi Hertati. Belum saja Hertati mengenakan pakaian selepas berhubungan intim, pelaku kemudian pergi ke dapur untuk mengambil pisau. Rahmat kemudian menusuk Hertati sebanyak dua kali di bagian perutnya hingga berteriak minta tolong. Rahmat lalu membekap mulut Hertati hingga ia tewas. Teriakan korban rupanya mengundang perhatian ER. ER bersama Kris kemudian masuk ke dalam rumah tersebut dan melihat kondisi Hertati sudah berlumuran darah. Rahmat kemudian menyuruh Kris untuk memegang ER dan membekap mulutnya. Rahmat kemudian merebut ER dari genggaman Kris, lalu menyuruh Kris untuk menunggu di luar. Rahmat kemudian membekap mulut ER hingga mati lemas. Tidak sampai di situ, ER kemudian disetubuhi lalu disodomi oleh Rahmat. Usai membunuh ER, Rahmat kemudian membopong tubuh mungil ER ke dalam dapur. Sebelumnya, Rahmat mengambil bensin yang ada di motornya, lalu menyiramkannya ke tubuh ER. Setelah itu, Rahmat kemudian membakar tubuh ER. Namun, Rahmat kemudian segera menyiram api di tubuh ER agar api tidak meluas. Setelah selesai menghabisi kedua korban, Rahmat meminta agar Kris berjaga-jaga di luar rumah untuk memantau situasi. Rahmat kemudian membereskan lokasi dan mengemas kedua korban, di mana Hertati dimasukkan ke dalam kardus bungkus televisi Sharp, sedangkan ER dimasukkan ke dalam koper berwarna ungu merek Polo. Setelah itu, Rahmat kemudian memasukkan 3 lembar foto pria ke dalam kardus, sementara koper berisi mayat ER dibubuhi dengan sebuah kartu nama milik Syarifudin, seorang sales peralatan elektronik di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Usai mengemasi semuanya, Rahmat kemudian menyuruh Kris untuk pulang.
Kamis, 13 Oktober 2011 Pada Kamis malam, tersangka yang sedang berada di rumah orang tuanya di Jalan Balai Rakyat V/8 RT 006/003 Tugu Selatan, Koja, Jakarta Utara menghubungi temannya, Kris. Rahmat meminta Kris untuk datang ke rumah kontrakan korban di Sukapura, Jakarta Utara. Rahmat meminta Kris untuk datang ke lokasi untuk mengambil surat keterangan sakit. Rahmat yang bekerja di sebuah pabrik jok di kawasan Sunter, Jakarta Utara itu berniat untuk tidak masuk pada Jumat (14/10). Setibanya di kontrakan, tersangka Kris diminta menunggu di luar kontrakan bersama ER. Sementara Kris menunggu di luar bersama ER, Rahmat menyetubuhi Hertati. Belum saja Hertati mengenakan pakaian selepas berhubungan intim, pelaku kemudian pergi ke dapur untuk mengambil pisau. Rahmat kemudian menusuk Hertati sebanyak dua kali di bagian perutnya hingga berteriak minta tolong. Rahmat lalu membekap mulut Hertati hingga ia tewas. Teriakan korban rupanya mengundang perhatian ER. ER bersama Kris kemudian masuk ke dalam rumah tersebut dan melihat kondisi Hertati sudah berlumuran darah. Rahmat kemudian menyuruh Kris untuk memegang ER dan membekap mulutnya. Rahmat kemudian merebut ER dari genggaman Kris, lalu menyuruh Kris untuk menunggu di luar. Rahmat kemudian membekap mulut ER hingga mati lemas. Tidak sampai di situ, ER kemudian disetubuhi lalu disodomi oleh Rahmat. Usai membunuh ER, Rahmat kemudian membopong tubuh mungil ER ke dalam dapur. Sebelumnya, Rahmat mengambil bensin yang ada di motornya, lalu menyiramkannya ke tubuh ER. Setelah itu, Rahmat kemudian membakar tubuh ER. Namun, Rahmat kemudian segera menyiram api di tubuh ER agar api tidak meluas. Setelah selesai menghabisi kedua korban, Rahmat meminta agar Kris berjaga-jaga di luar rumah untuk memantau situasi. Rahmat kemudian membereskan lokasi dan mengemas kedua korban, di mana Hertati dimasukkan ke dalam kardus bungkus televisi Sharp, sedangkan ER dimasukkan ke dalam koper berwarna ungu merek Polo. Setelah itu, Rahmat kemudian memasukkan 3 lembar foto pria ke dalam kardus, sementara koper berisi mayat ER dibubuhi dengan sebuah kartu nama milik Syarifudin, seorang sales peralatan elektronik di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Usai mengemasi semuanya, Rahmat kemudian menyuruh Kris untuk pulang.
FMNR Sem 3 3
ANALISA PSIKOLOGI Terhadap
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
Jumat, 14 Oktober 2011 Menjelang pukul 12.00 WIB, Rahmat kemudian membuang kardus berisi mayat Hertati di Jl. Kurnia, Gang D, Koja, Jakarta Utara. Rahmat membuang kardus itu seorang diri dengan menggunakan motor bebek. Sekitar pukul 12.05, saat menuju lokasi pembuangan mayat, Rahmat sempat tertangkap kamera CCTV milik Bank BNI di kawasan Koja, Jakarta Utara. Dalam rekaman itu terlihat bahwa Rahmat hanya mengenakan jaket warna hitam dan celana jeans pendek. Setibanya di lokasi, Rahmat kemudian meletakkan kardus berisi mayat Hertati di pinggir gang yang hanya memiliki lebar sekitar 2 meter. Adapun, kardus berisi mayat Hertati itu ditemukan pada Jumat (14/10) sekitar pukul 15.00 WIB.
Sabtu, 15 Oktober 2011 Pada Sabtu pagi, Rahmat membuang koper berisi mayat ER di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Setelah itu, korban pulang ke rumahnya. Sementara mayat ER dalam koper baru diketahui pada siang harinya.
Jumat, 21 Oktober 2011 Setelah berhasil mengidentifikasi korban Hertati dan ER, aparat Polda Metro Jaya akhirnya berhasil menangkap Rahmat. Rahmat ditangkap sekitar pukul 06.00 WIB. Rahmat ditangkap di pabrik jok mobil di Sunter, Jakarta Utara, tempatnya bekerja. Sedangkan Kris yang turut membantu juga dibekuk pada hari yang sama, Sabtu (21/10) siang. Polisi menjerat tersangka dengan tuduhan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati. Dari kedua tersangka, polisi menyita barang bukti berupa sebilah pisau dapur, karpet berlumur darah, kardus televisi, koper, telepon genggam milik Hertati, HP milik Rahmat serta motor.(mei/rdf)
Sabtu, 15 Oktober 2011 Pada Sabtu pagi, Rahmat membuang koper berisi mayat ER di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Setelah itu, korban pulang ke rumahnya. Sementara mayat ER dalam koper baru diketahui pada siang harinya.
Jumat, 21 Oktober 2011 Setelah berhasil mengidentifikasi korban Hertati dan ER, aparat Polda Metro Jaya akhirnya berhasil menangkap Rahmat. Rahmat ditangkap sekitar pukul 06.00 WIB. Rahmat ditangkap di pabrik jok mobil di Sunter, Jakarta Utara, tempatnya bekerja. Sedangkan Kris yang turut membantu juga dibekuk pada hari yang sama, Sabtu (21/10) siang. Polisi menjerat tersangka dengan tuduhan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati. Dari kedua tersangka, polisi menyita barang bukti berupa sebilah pisau dapur, karpet berlumur darah, kardus televisi, koper, telepon genggam milik Hertati, HP milik Rahmat serta motor.(mei/rdf)
FMNR Sem 3 4
ANALISA PSIKOLOGI Terhadap
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
BAB II
LANDASAN TEORI
Dalam
Dalam
PSIKOLOGI
Berbagai teori dalam psikologi yang penulis gunakan sebagai landasan untuk menganalisa kasus pembunuhan ibu dan anak sebagaimana telah penulis kemukakan dalam bab sebelumnya, antara lain:
1. Proses profiling 2. Ciri-ciri pembunuh berantai 3. Otopsi psikologis 4. Sindroma
Berikut ini ulasan singkat tentang pengertian tersebut: 1. Proses Profiling
Teknik-teknik criminal profiling (profiling kriminal) dipelopori oleh Unit Profiling and Behavioral Assessment (Profiling dan Pengukuran Perilaku) FBI yang dahulu disebut Behavioral Science Unit (Unit Ilmu Perilaku) di Quantico, Virginia. Teknikteknik profiling yang juga dikenal sebagai retroklasifikasi atau analisis investigasi kriminal yang digunakan oleh FBI pernah diterapkan dan sangat berhasil serta terkenal dalam kasus yang melibatkan pembunuh berantai. Pembunuh berantai diartikan sebagai pembunuh yang membunuh tiga orang atau lebih pada waktu yang berbeda, dengan periode ‘pendinginan’ di antara peristiwa pembunuhan yang satu dengan peristiwa pembunuhan berikutnya. Para profiler yang pernah bekerja di FBI menekankan tentang pentingnya ’aspek signature’ dari tindak kejahatan yang dimaksud. Aspek signature adalah aspek pribadi dan khas dari tindak kejahatan tersebut yang diduga dapat mengungkapkan kepribadian si pembunuh (sebagai contoh, bentuk siksaan tertentu yang digunakan atau aktivitas seksual tertentu yang terkait dengan pembunuh berantai tertentu. Menurut John Douglas, salah seorang agen yang mengembangkan sistem FBI, metode yang digunakan untuk menculik, memindahkan atau melenyapkan korban bisa saja berubah tetapi signaturenya akan relatif tetap konstan karena ‘...itu adalah alasan si pembunuh untuk melakukan perbuatannya itu, hal yang membuatnya puas secara
1. Proses profiling 2. Ciri-ciri pembunuh berantai 3. Otopsi psikologis 4. Sindroma
Berikut ini ulasan singkat tentang pengertian tersebut: 1. Proses Profiling
Teknik-teknik criminal profiling (profiling kriminal) dipelopori oleh Unit Profiling and Behavioral Assessment (Profiling dan Pengukuran Perilaku) FBI yang dahulu disebut Behavioral Science Unit (Unit Ilmu Perilaku) di Quantico, Virginia. Teknikteknik profiling yang juga dikenal sebagai retroklasifikasi atau analisis investigasi kriminal yang digunakan oleh FBI pernah diterapkan dan sangat berhasil serta terkenal dalam kasus yang melibatkan pembunuh berantai. Pembunuh berantai diartikan sebagai pembunuh yang membunuh tiga orang atau lebih pada waktu yang berbeda, dengan periode ‘pendinginan’ di antara peristiwa pembunuhan yang satu dengan peristiwa pembunuhan berikutnya. Para profiler yang pernah bekerja di FBI menekankan tentang pentingnya ’aspek signature’ dari tindak kejahatan yang dimaksud. Aspek signature adalah aspek pribadi dan khas dari tindak kejahatan tersebut yang diduga dapat mengungkapkan kepribadian si pembunuh (sebagai contoh, bentuk siksaan tertentu yang digunakan atau aktivitas seksual tertentu yang terkait dengan pembunuh berantai tertentu. Menurut John Douglas, salah seorang agen yang mengembangkan sistem FBI, metode yang digunakan untuk menculik, memindahkan atau melenyapkan korban bisa saja berubah tetapi signaturenya akan relatif tetap konstan karena ‘...itu adalah alasan si pembunuh untuk melakukan perbuatannya itu, hal yang membuatnya puas secara
FMNR Sem 3 5
ANALISA PSIKOLOGI Terhadap
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
emosional...alasan emosional mengapa ia melakukan tindak kejahatan itulah yang terpenting’ (Douglas dan Olshaker, 1997, h.26)
2. Ciri-ciri pembunuh berantai Tidak ada daftar ciri yang menggambarkan semua pembunuh berantai. Tetapi, penelitian telah mengungkap beberapa pola berulang pada pembunuh-pembunuh berantai. Banyak di antara mereka yang menderita cedera otak, yang mengganggu proses berfikir rasionalnya. Sebagian besar pernah mengalami penganiayaan fisik, seksual dan atau psikologis tertentu di masa kanak-kanak (Hickey, 1997). Pembunuh berantai sering memperlihatkan minat obsesif terhadap pornografi yang mengandung kekerasan dan pembunuhan berantainya biasanya merupakan tindak kejahatan yang melibatkan seks. Fantasi seksual pembunuh mungkin semacam latihan sebelum melakukan tindak kejahatannya. Profiler kadang-kadang membedakan antara pembunuh yang terorganisasi dan yang tidak terorganisasi (Ressler, Burgess dan Douglass, 1988). Pembunuh yang terorganisasi memilih korbannya dengan cermat dan merencanakan dengan seksama apa yang akan mereka lakukan terhadap korbannya. Mereka menunjukkan kesabaran dan kontrol diri yang tinggi dengan menunggu kesempatan yang tepat dan membersihkan bukti-bukti setelah selesai membunuh. Mereka juga cenderung menggunakan ritual yang lebih elaboratif, yang melibatkan penyiksaan terhadap korban dan memotong-motong mayatnya. Sebaliknya, pembunuh yang tidak terorganisasi cenderung bersifat impulsif, membunuh akibat amarah yang muncul tiba-tiba atau mengikuti perintah untuk membunuh yang ‘terdengar’ di kepalanya. Pembunuh yang tidak terorganisasi lebih cenderung menggunakan senjata apa pun yang kebetulan ada di sana, meninggalkan senjatanya di TKP, dan menggunakan mayat korbannya untuk memenuhi tujuan-tujuan seksualnya. Skema klasifikasi yang lebih terdiferensiasi dikemukakan oleh Ronald Holmes. Holmes mengelompokkan pembunuh berantai menjadi empat tipe, yaitu: visioner, berorientasi pada misi tertentu, hedonistik, dan berorientasi pada kekuasaan. Tipe-tipe visioner biasanya psikotik. Mereka memiliki visi atau keyakinan bahwa mereka mendengar suara Tuhan atau suara arwah yang memerintahkan kepada mereka untuk membunuh orang-orang dengan tipe-tipe tertentu. Tipe yang berorientasi pada misi tertentu tidak terlalu psikotik tetapi dimotivasi oleh keinginan untuk membunuh orang-orang yang mereka anggap jahat atau menjijikkan (misalnya seseorang
2. Ciri-ciri pembunuh berantai Tidak ada daftar ciri yang menggambarkan semua pembunuh berantai. Tetapi, penelitian telah mengungkap beberapa pola berulang pada pembunuh-pembunuh berantai. Banyak di antara mereka yang menderita cedera otak, yang mengganggu proses berfikir rasionalnya. Sebagian besar pernah mengalami penganiayaan fisik, seksual dan atau psikologis tertentu di masa kanak-kanak (Hickey, 1997). Pembunuh berantai sering memperlihatkan minat obsesif terhadap pornografi yang mengandung kekerasan dan pembunuhan berantainya biasanya merupakan tindak kejahatan yang melibatkan seks. Fantasi seksual pembunuh mungkin semacam latihan sebelum melakukan tindak kejahatannya. Profiler kadang-kadang membedakan antara pembunuh yang terorganisasi dan yang tidak terorganisasi (Ressler, Burgess dan Douglass, 1988). Pembunuh yang terorganisasi memilih korbannya dengan cermat dan merencanakan dengan seksama apa yang akan mereka lakukan terhadap korbannya. Mereka menunjukkan kesabaran dan kontrol diri yang tinggi dengan menunggu kesempatan yang tepat dan membersihkan bukti-bukti setelah selesai membunuh. Mereka juga cenderung menggunakan ritual yang lebih elaboratif, yang melibatkan penyiksaan terhadap korban dan memotong-motong mayatnya. Sebaliknya, pembunuh yang tidak terorganisasi cenderung bersifat impulsif, membunuh akibat amarah yang muncul tiba-tiba atau mengikuti perintah untuk membunuh yang ‘terdengar’ di kepalanya. Pembunuh yang tidak terorganisasi lebih cenderung menggunakan senjata apa pun yang kebetulan ada di sana, meninggalkan senjatanya di TKP, dan menggunakan mayat korbannya untuk memenuhi tujuan-tujuan seksualnya. Skema klasifikasi yang lebih terdiferensiasi dikemukakan oleh Ronald Holmes. Holmes mengelompokkan pembunuh berantai menjadi empat tipe, yaitu: visioner, berorientasi pada misi tertentu, hedonistik, dan berorientasi pada kekuasaan. Tipe-tipe visioner biasanya psikotik. Mereka memiliki visi atau keyakinan bahwa mereka mendengar suara Tuhan atau suara arwah yang memerintahkan kepada mereka untuk membunuh orang-orang dengan tipe-tipe tertentu. Tipe yang berorientasi pada misi tertentu tidak terlalu psikotik tetapi dimotivasi oleh keinginan untuk membunuh orang-orang yang mereka anggap jahat atau menjijikkan (misalnya seseorang
FMNR Sem 3 6
ANALISA PSIKOLOGI Terhadap
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
berusaha membunuh semua dokter yang melakukan aborsi). Tipe hedonistik membunuh untuk mendapatkan sensasi tertentu dan mendapatkan kenikmatan seksual secara sadistis dengan menyiksa korbannya. Tipe keempat-yang berorientasi pada kekuasaan-mendapatkan kepuasan dengan menangkap dan mengontrol sebelum membunuh.
3. Otopsi psikologis Otopsi psikologis adalah usaha yang dilakukan untuk membedah dan memeriksa keadaan psikologis seseorang sebelum kematiannya. Analogi antara otopsi fisik dan psikologis tidak benar-benar pas. Luka-luka pada mayat dapat diperiksa dari dekat. Tubuh mayat itu dapat disayat dan dibedah. Bagian-bagian tubuhnya dapat ditimbang, diukur, dan dianalisis secara kimiawi. Tidak ada ‘mayat psikologis’ yang komparabel untuk diperiksa. Analisis psikologis seperti otopsi harus bersandar pada sumbersumber bukti yang tidak begitu langsung. Biasanya, sumber-sumber ini meliputi semua catatan yang ditinggalkan oleh almarhum ( surat, e-mail, entri jurnal, rekaman suara atau gambar, rekening bank, catatan mahasiswa atau catatan pegawai), maupun data tentang orang itu yang diperoleh dari teman, anggota keluarga, atau teman kerja yang melakukan kontak dengan almarhum sebelum kematiannya. Tujuannya adalah untuk merekonstruksikan keadaan emosional, kepribadian, pikiran-pikiran dan gaya hidup almarhum. Kesimpulan tentang intensi dan keadaan emosional almarhum tidak lama sebelum kematiannya sangat penting untuk dianalisis.
4. Sindroma Sindroma, seperti halnya profil, adalah sejumlah perilaku atau sifat yang menggambarkan sekelompok orang yang sama. Dalam sistem hukum, istilah ‘profil’ pada umumnya digunakan untuk menggambarkan tersangka kriminal, sedangkan istilah ‘sindroma’ biasanya digunakan untuk menggambarkan reaksi-reaksi psikologis korban kejahatan. Kata ‘syndrome’ berasal dari dunia medik atau psikiatris. Ketika seseorang digambarkan mengalami suatu sindroma, itu berarti bahwa ia memperlihatkan sejumlah gejala yang saling terkait. Dalam psikologi, konsep sindroma membantu terapis memahami dan memperlakukan orang dengan gangguan jiwa dan gangguan emosional tertentu. Dua sindroma psikologis telah menjadi sangat menonjol dalam sistem hukum, yaitu: Battered Woman Syndrome dan Rape Trauma Syndrome. Battered Woman Syndrome yaitu sindroma yang menjelaskan perilaku wanita yang dianiaya secara fisik oleh suami atau partnernya sedangkan Rape Trauma
3. Otopsi psikologis Otopsi psikologis adalah usaha yang dilakukan untuk membedah dan memeriksa keadaan psikologis seseorang sebelum kematiannya. Analogi antara otopsi fisik dan psikologis tidak benar-benar pas. Luka-luka pada mayat dapat diperiksa dari dekat. Tubuh mayat itu dapat disayat dan dibedah. Bagian-bagian tubuhnya dapat ditimbang, diukur, dan dianalisis secara kimiawi. Tidak ada ‘mayat psikologis’ yang komparabel untuk diperiksa. Analisis psikologis seperti otopsi harus bersandar pada sumbersumber bukti yang tidak begitu langsung. Biasanya, sumber-sumber ini meliputi semua catatan yang ditinggalkan oleh almarhum ( surat, e-mail, entri jurnal, rekaman suara atau gambar, rekening bank, catatan mahasiswa atau catatan pegawai), maupun data tentang orang itu yang diperoleh dari teman, anggota keluarga, atau teman kerja yang melakukan kontak dengan almarhum sebelum kematiannya. Tujuannya adalah untuk merekonstruksikan keadaan emosional, kepribadian, pikiran-pikiran dan gaya hidup almarhum. Kesimpulan tentang intensi dan keadaan emosional almarhum tidak lama sebelum kematiannya sangat penting untuk dianalisis.
4. Sindroma Sindroma, seperti halnya profil, adalah sejumlah perilaku atau sifat yang menggambarkan sekelompok orang yang sama. Dalam sistem hukum, istilah ‘profil’ pada umumnya digunakan untuk menggambarkan tersangka kriminal, sedangkan istilah ‘sindroma’ biasanya digunakan untuk menggambarkan reaksi-reaksi psikologis korban kejahatan. Kata ‘syndrome’ berasal dari dunia medik atau psikiatris. Ketika seseorang digambarkan mengalami suatu sindroma, itu berarti bahwa ia memperlihatkan sejumlah gejala yang saling terkait. Dalam psikologi, konsep sindroma membantu terapis memahami dan memperlakukan orang dengan gangguan jiwa dan gangguan emosional tertentu. Dua sindroma psikologis telah menjadi sangat menonjol dalam sistem hukum, yaitu: Battered Woman Syndrome dan Rape Trauma Syndrome. Battered Woman Syndrome yaitu sindroma yang menjelaskan perilaku wanita yang dianiaya secara fisik oleh suami atau partnernya sedangkan Rape Trauma
FMNR Sem 3 7
ANALISA PSIKOLOGI Terhadap
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
Syndrome yaitu sindroma yang menggambarkan bagaimana wanita merespon trauma akibat pernah diperkosa.
FMNR Sem 3 8
ANALISA PSIKOLOGI Terhadap
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
BAB III ANALISA KASUS
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
BAB III ANALISA KASUS
Berdasarkan teori-teori dalam psikologi khususnya menyangkut proses profiling, ciriciri pembunuh berantai, otopsi psikologis dan sindroma, penulis melakukan analisa terhadap kasus pembunuhan ibu dan anak. Analisa kasus ini difokuskan pada sisi psikologis pelaku pembunuhan untuk menjawab pertanyaan mengapa pelaku tega melakukan pembunuhan pada korban yang notabene adalah orang yang ada jalinan asmara dengan pelaku.
Untuk mempermudah analisa terhadap kasus pembunuhan tersebut, penulis kemukakan beberapa point penting sebagai ikhtisar atas kasus tersebut. Point penting tersebut antara lain:
1. Kasus pembunuhan terhadap ibu dan anaknya tersebut merupakan kasus pembunuhan dengan motif cinta. Hartati wanita berusia 35 tahun dan anaknya ER yang baru berusia 6 tahun dibunuh oleh tersangka Rahmat yang tak lain adalah pacar korban.
2. Berdasarkan hasil olah TKP di rumah kontrakan korban di Jalan Poncol Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara, Petugas Kepolisian mengaku menemukan sejumlah bercak darah korban di berbagai tempat, termasuk bekas anak korban yang sempat dibakar di dapur untuk menghilangkan identitas korban.
3. Hasil identifikasi petugas ditemukan luka tusuk pada perut korban dan luka jeratan pada leher korban, diduga kuat korban tewas dibunuh sebelum dimasukan kedalam kardus dan dibuang pelakunya.
4. Sesosok mayat wanita belia ditemukan dalam koper di pinggir jalan raya Cakung Barat, Jakarta Timur diperkirakan berusia sekitar 8 tahun dengan kondisi sangat mengenaskan.
5. Polisi yang melakukan identifikasi terhadap mayat menemukan sekujur tubuh korban melepuh, sementara pada kemaluan korban sudah rusak.
6. Dua orang pelaku diringkus kepolisian Daerah Metrojaya di tempat kerja mereka di Sunter, Jakarta Utara. Keduanya merupakan pelaku pembunuhan sadis terhadap Hartati, wanita asal Lampung berusia 35 tahun serta anak perempuan Hartati yang baru berusia 6 tahun, Eri.
Untuk mempermudah analisa terhadap kasus pembunuhan tersebut, penulis kemukakan beberapa point penting sebagai ikhtisar atas kasus tersebut. Point penting tersebut antara lain:
1. Kasus pembunuhan terhadap ibu dan anaknya tersebut merupakan kasus pembunuhan dengan motif cinta. Hartati wanita berusia 35 tahun dan anaknya ER yang baru berusia 6 tahun dibunuh oleh tersangka Rahmat yang tak lain adalah pacar korban.
2. Berdasarkan hasil olah TKP di rumah kontrakan korban di Jalan Poncol Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara, Petugas Kepolisian mengaku menemukan sejumlah bercak darah korban di berbagai tempat, termasuk bekas anak korban yang sempat dibakar di dapur untuk menghilangkan identitas korban.
3. Hasil identifikasi petugas ditemukan luka tusuk pada perut korban dan luka jeratan pada leher korban, diduga kuat korban tewas dibunuh sebelum dimasukan kedalam kardus dan dibuang pelakunya.
4. Sesosok mayat wanita belia ditemukan dalam koper di pinggir jalan raya Cakung Barat, Jakarta Timur diperkirakan berusia sekitar 8 tahun dengan kondisi sangat mengenaskan.
5. Polisi yang melakukan identifikasi terhadap mayat menemukan sekujur tubuh korban melepuh, sementara pada kemaluan korban sudah rusak.
6. Dua orang pelaku diringkus kepolisian Daerah Metrojaya di tempat kerja mereka di Sunter, Jakarta Utara. Keduanya merupakan pelaku pembunuhan sadis terhadap Hartati, wanita asal Lampung berusia 35 tahun serta anak perempuan Hartati yang baru berusia 6 tahun, Eri.
FMNR Sem 3 9
ANALISA PSIKOLOGI Terhadap
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
7. Kepolisian mengatakan bahwa pembunuhan direncanakan Rahmat di rumah kontrakan korban di Sukapura, Jakarta Utara, 13 Oktober lalu lantaran korban menuntut pelaku untuk bertanggungjawab atas anak dalam kandungan korban dari hasil hubungan gelapnya dengan pelaku.
Sementara itu, berdasarkan sumber detik kronologis pembunuhan terhadap ibu dan anaknya tersebut, penulis ikhtisarkan sebagai berikut:
1. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Gatot Edy Pramono mengatakan bahwa pembunuhan diawali adanya permintaan Hertati kepada Rahmat untuk bertanggung jawab atas kehamilan Hertati yang memasuki usia kandungan 3 minggu. Usai menghabisi nyawa Hertati, Rahmat juga tega membunuh lalu membakar anak bungsu Hertati. Tersangka sendiri telah merencanakan aksi pembunuhan ini seminggu sebelumnya. Aksinya itu dibantu oleh temannya, Kriswahyudi yang juga ditetapkan sebagai tersangka.
2. Kronologi pembunuhan kedua korban oleh tersangka seperti dipaparkan Gatot di hadapan wartawan, Jumat (21/10/2011) malam, adalah:
a. Kamis, 13 Oktober 2011 Pada Kamis malam, tersangka menghubungi temannya, Kris. Rahmat meminta Kris untuk datang ke rumah kontrakan korban di Sukapura, Jakarta Utara untuk mengambil surat keterangan sakit. Rahmat yang bekerja di sebuah pabrik jok di kawasan Sunter, Jakarta Utara itu berniat untuk tidak masuk pada Jumat (14/10). Setibanya di kontrakan, tersangka Kris diminta menunggu di luar kontrakan bersama ER. Sementara Kris menunggu di luar bersama ER, Rahmat menyetubuhi Hertati. Belum saja Hertati mengenakan pakaian selepas berhubungan intim, pelaku kemudian pergi ke dapur untuk mengambil pisau. Rahmat kemudian menusuk Hertati sebanyak dua kali di bagian perutnya hingga berteriak minta tolong. Rahmat lalu membekap mulut Hertati hingga ia tewas. Teriakan korban rupanya mengundang perhatian ER. ER bersama Kris kemudian masuk ke dalam rumah tersebut dan melihat kondisi Hertati sudah berlumuran darah. Rahmat kemudian menyuruh Kris untuk memegang ER dan membekap mulutnya. Rahmat kemudian merebut ER dari genggaman Kris, lalu menyuruh Kris untuk menunggu di luar. Rahmat kemudian membekap mulut ER hingga mati lemas. Tidak sampai di situ, ER kemudian disetubuhi
Sementara itu, berdasarkan sumber detik kronologis pembunuhan terhadap ibu dan anaknya tersebut, penulis ikhtisarkan sebagai berikut:
1. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Gatot Edy Pramono mengatakan bahwa pembunuhan diawali adanya permintaan Hertati kepada Rahmat untuk bertanggung jawab atas kehamilan Hertati yang memasuki usia kandungan 3 minggu. Usai menghabisi nyawa Hertati, Rahmat juga tega membunuh lalu membakar anak bungsu Hertati. Tersangka sendiri telah merencanakan aksi pembunuhan ini seminggu sebelumnya. Aksinya itu dibantu oleh temannya, Kriswahyudi yang juga ditetapkan sebagai tersangka.
2. Kronologi pembunuhan kedua korban oleh tersangka seperti dipaparkan Gatot di hadapan wartawan, Jumat (21/10/2011) malam, adalah:
a. Kamis, 13 Oktober 2011 Pada Kamis malam, tersangka menghubungi temannya, Kris. Rahmat meminta Kris untuk datang ke rumah kontrakan korban di Sukapura, Jakarta Utara untuk mengambil surat keterangan sakit. Rahmat yang bekerja di sebuah pabrik jok di kawasan Sunter, Jakarta Utara itu berniat untuk tidak masuk pada Jumat (14/10). Setibanya di kontrakan, tersangka Kris diminta menunggu di luar kontrakan bersama ER. Sementara Kris menunggu di luar bersama ER, Rahmat menyetubuhi Hertati. Belum saja Hertati mengenakan pakaian selepas berhubungan intim, pelaku kemudian pergi ke dapur untuk mengambil pisau. Rahmat kemudian menusuk Hertati sebanyak dua kali di bagian perutnya hingga berteriak minta tolong. Rahmat lalu membekap mulut Hertati hingga ia tewas. Teriakan korban rupanya mengundang perhatian ER. ER bersama Kris kemudian masuk ke dalam rumah tersebut dan melihat kondisi Hertati sudah berlumuran darah. Rahmat kemudian menyuruh Kris untuk memegang ER dan membekap mulutnya. Rahmat kemudian merebut ER dari genggaman Kris, lalu menyuruh Kris untuk menunggu di luar. Rahmat kemudian membekap mulut ER hingga mati lemas. Tidak sampai di situ, ER kemudian disetubuhi
FMNR Sem 3 10
ANALISA PSIKOLOGI Terhadap
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
lalu disodomi oleh Rahmat. Usai membunuh ER, Rahmat kemudian membopong tubuh mungil ER ke dalam dapur. Sebelumnya, Rahmat mengambil bensin yang ada di motornya, lalu menyiramkannya ke tubuh ER. Setelah itu, Rahmat kemudian membakar tubuh ER. Namun, Rahmat kemudian segera menyiram api di tubuh ER agar api tidak meluas. Setelah selesai menghabisi kedua korban, Rahmat meminta agar Kris berjaga-jaga di luar rumah untuk memantau situasi. Rahmat kemudian membereskan lokasi dan mengemas kedua korban, di mana Hertati dimasukkan ke dalam kardus bungkus televisi Sharp, sedangkan ER dimasukkan ke dalam koper berwarna ungu merek Polo. Setelah itu, Rahmat kemudian memasukkan 3 lembar foto pria ke dalam kardus, sementara koper berisi mayat ER dibubuhi dengan sebuah kartu nama milik Syarifudin, seorang sales peralatan elektronik di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Usai mengemasi semuanya, Rahmat kemudian menyuruh Kris untuk pulang.
b. Jumat, 14 Oktober 2011 Menjelang pukul 12.00 WIB, Rahmat kemudian membuang kardus berisi mayat Hertati di Jl. Kurnia, Gang D, Koja, Jakarta Utara. Rahmat membuang kardus itu seorang diri dengan menggunakan motor bebek. Sekitar pukul 12.05, saat menuju lokasi pembuangan mayat, Rahmat sempat tertangkap kamera CCTV milik Bank BNI di kawasan Koja, Jakarta Utara. Dalam rekaman itu terlihat bahwa Rahmat hanya mengenakan jaket warna hitam dan celana jeans pendek. Setibanya di lokasi, Rahmat kemudian meletakkan kardus berisi mayat Hertati di pinggir gang yang hanya memiliki lebar sekitar 2 meter. Adapun, kardus berisi mayat Hertati itu ditemukan pada Jumat (14/10) sekitar pukul 15.00 WIB.
c. Sabtu, 15 Oktober 2011 Pada Sabtu pagi, Rahmat membuang koper berisi mayat ER di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Setelah itu, korban pulang ke rumahnya. Sementara mayat ER dalam koper baru diketahui pada siang harinya.
Berdasarkan teori-teori yang telah penulis kemukakan dalam bab sebelumnya khususnya mengenai proses profiling, ciri-ciri pembunuh berantai, otopsi psikologis dan sindroma, penulis melakukan analisa terhadap kasus pembunuhan ibu dan anak untuk
b. Jumat, 14 Oktober 2011 Menjelang pukul 12.00 WIB, Rahmat kemudian membuang kardus berisi mayat Hertati di Jl. Kurnia, Gang D, Koja, Jakarta Utara. Rahmat membuang kardus itu seorang diri dengan menggunakan motor bebek. Sekitar pukul 12.05, saat menuju lokasi pembuangan mayat, Rahmat sempat tertangkap kamera CCTV milik Bank BNI di kawasan Koja, Jakarta Utara. Dalam rekaman itu terlihat bahwa Rahmat hanya mengenakan jaket warna hitam dan celana jeans pendek. Setibanya di lokasi, Rahmat kemudian meletakkan kardus berisi mayat Hertati di pinggir gang yang hanya memiliki lebar sekitar 2 meter. Adapun, kardus berisi mayat Hertati itu ditemukan pada Jumat (14/10) sekitar pukul 15.00 WIB.
c. Sabtu, 15 Oktober 2011 Pada Sabtu pagi, Rahmat membuang koper berisi mayat ER di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Setelah itu, korban pulang ke rumahnya. Sementara mayat ER dalam koper baru diketahui pada siang harinya.
Berdasarkan teori-teori yang telah penulis kemukakan dalam bab sebelumnya khususnya mengenai proses profiling, ciri-ciri pembunuh berantai, otopsi psikologis dan sindroma, penulis melakukan analisa terhadap kasus pembunuhan ibu dan anak untuk
FMNR Sem 3 11
ANALISA PSIKOLOGI Terhadap
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
menjawab pertanyaan mengapa pelaku tega melakukan pembunuhan pada korban yang notabene adalah orang yang ada jalinan asmara dengan pelaku. Dari sisi psikologis, analisa penulis terhadap kasus pembunuhan ibu dan anak ini adalah:
1. Berdasarkan teknik-teknik criminal profiling (profiling kriminal) yang dipelopori oleh Unit Profiling and Behavioral Assessment (Profiling dan Pengukuran Perilaku) FBI yang dahulu disebut Behavioral Science Unit (Unit Ilmu Perilaku) di Quantico, Virginia, pembunuh berantai diartikan sebagai pembunuh yang membunuh tiga orang atau lebih pada waktu yang berbeda, dengan periode ‘pendinginan’ di antara peristiwa pembunuhan yang satu dengan peristiwa pembunuhan berikutnya. Berdasarkan pengertian tersebut maka kasus pembunuhan ibu dan anak yang dilakukan oleh pelaku bukan merupakan kasus pembunuhan berantai. Dalam kasus tersebut, pelaku melakukan pembunuhan terhadap korban (Hartati) dan anaknya ER dalam waktu yang hampir bersamaan tanpa ada periode pendinginan antara pembunuhan terhadap Hartati dan pembunuhan terhadap ER. Kasus pembunuhan tersebut diawali adanya permintaan Hartati kepada Rahmat untuk bertanggung jawab atas kehamilan Hartati yang memasuki usia kandungan 3 minggu. Pembunuhan terhadap Hartati dilakukan oleh Rahmat sebagai wujud ketidaksiapan Rahmat untuk bertanggung jawab terhadap kehamilan Hartati. Hal ini bisa jadi karena faktor ekonomi, mengingat pekerjaan Rahmat yang hanya sebagai karyawan di pabrik jok mobil di Sunter atau bisa jadi karena faktor psikologis lain seperti: malu, takut atau khawatir bahwa dia telah melakukan perbuatan tercela (menghamili Hartati tanpa ikatan pernikahan). Untuk menutupi rasa malu, takut dan khawatir tersebut maka Rahmat merencanakan pembunuhan terhadap Hartati. Sementara itu, pembunuhan yang dilakukan Rahmat terhadap ER merupakan tindakan impulsif Rahmat untuk menghilangkan jejak/ mengamankan perbuatannya mengingat ER melihat kejadian yang menimpa ibunya. Tindakan Rahmat membakar mayat ER mungkin dimaksudkan untuk menunjukkan pada orang lain/ masyarakat sekitar yang melihatnya bahwa kematian ER karena kebakaran. Dari aspek signature, Rahmat melakukan hubungan intim dengan Hartati sebelum akhirnya membunuh wanita tersebut. Hal ini mungkin saja dilakukan Rahmat
1. Berdasarkan teknik-teknik criminal profiling (profiling kriminal) yang dipelopori oleh Unit Profiling and Behavioral Assessment (Profiling dan Pengukuran Perilaku) FBI yang dahulu disebut Behavioral Science Unit (Unit Ilmu Perilaku) di Quantico, Virginia, pembunuh berantai diartikan sebagai pembunuh yang membunuh tiga orang atau lebih pada waktu yang berbeda, dengan periode ‘pendinginan’ di antara peristiwa pembunuhan yang satu dengan peristiwa pembunuhan berikutnya. Berdasarkan pengertian tersebut maka kasus pembunuhan ibu dan anak yang dilakukan oleh pelaku bukan merupakan kasus pembunuhan berantai. Dalam kasus tersebut, pelaku melakukan pembunuhan terhadap korban (Hartati) dan anaknya ER dalam waktu yang hampir bersamaan tanpa ada periode pendinginan antara pembunuhan terhadap Hartati dan pembunuhan terhadap ER. Kasus pembunuhan tersebut diawali adanya permintaan Hartati kepada Rahmat untuk bertanggung jawab atas kehamilan Hartati yang memasuki usia kandungan 3 minggu. Pembunuhan terhadap Hartati dilakukan oleh Rahmat sebagai wujud ketidaksiapan Rahmat untuk bertanggung jawab terhadap kehamilan Hartati. Hal ini bisa jadi karena faktor ekonomi, mengingat pekerjaan Rahmat yang hanya sebagai karyawan di pabrik jok mobil di Sunter atau bisa jadi karena faktor psikologis lain seperti: malu, takut atau khawatir bahwa dia telah melakukan perbuatan tercela (menghamili Hartati tanpa ikatan pernikahan). Untuk menutupi rasa malu, takut dan khawatir tersebut maka Rahmat merencanakan pembunuhan terhadap Hartati. Sementara itu, pembunuhan yang dilakukan Rahmat terhadap ER merupakan tindakan impulsif Rahmat untuk menghilangkan jejak/ mengamankan perbuatannya mengingat ER melihat kejadian yang menimpa ibunya. Tindakan Rahmat membakar mayat ER mungkin dimaksudkan untuk menunjukkan pada orang lain/ masyarakat sekitar yang melihatnya bahwa kematian ER karena kebakaran. Dari aspek signature, Rahmat melakukan hubungan intim dengan Hartati sebelum akhirnya membunuh wanita tersebut. Hal ini mungkin saja dilakukan Rahmat
FMNR Sem 3 12
ANALISA PSIKOLOGI Terhadap
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
untuk menghilangkan kecurigaan Hartati pada niat jahatnya. Aktivitas seksual tersebut bisa jadi merupakan aktivitas yang sering mereka berdua lakukan ketika keduanya bertemu mengingat terjadinya kehamilan pada Hartati.
2. Ciri-ciri pembunuh berantai Mengingat tidak adanya daftar ciri yang menggambarkan semua pembunuh berantai maka terhadap kasus pembunuhan ibu dan anak yang dilakukan oleh Rahmat tidak bisa dikategorikan sebagai pembunuh berantai. Berdasarkan hasil penelitian dimana disebutkan bahwa terdapat pola berulang pada pembunuh berantai maka terhadap kasus pembunuhan tersebut pun tidak bisa dikategorikan sebagai kasus pembunuhan berantai. Pembunuhan yang dilakukan Rahmat terhadap Hartati semata-mata merupakan tindakan yang diambil Rahmat sebagai wujud ketidaksiapan Rahmat bertanggung jawab atas perbuatannya untuk memenuhi tuntutan Hartati yang hamil anak hasil hubungan gelap keduanya.
3. Otopsi psikologis Dari sisi otopsi psikologis, penulis tidak mendapatkan informasi tentang keadaan psikologis Hartati sebelum kematiannya sementara analisis psikologis seperti otopsi harus bersandar pada sumber-sumber bukti yang tidak begitu langsung, misalnya semua catatan yang ditinggalkan oleh almarhumah (surat, e-mail, entri jurnal, rekaman suara atau gambar, rekening bank, catatan mahasiswa atau catatan pegawai), maupun data tentang Hartati yang diperoleh dari teman, anggota keluarga, atau teman kerja yang melakukan kontak dengan almarhumah sebelum kematiannya. Hal ini bertujuan untuk merekonstruksikan keadaan emosional, kepribadian, pikiran-pikiran dan gaya hidup almarhumah.
4. Sindroma Dari kasus pembunuhan ibu dan anak tersebut, penulis tidak mendapat informasi tentang sindroma yang diderita Hartati. Penulis tidak dapat gambaran reaksi-reaksi psikologis Hartati mengingat yang bersangkutan telah meninggal dunia. Dari sisi profil tersangka pun, penulis tidak mendapat informasi secara lengkap bagaimana karakter dan perilaku sehari-hari Rahmat sehingga timbul kesulitan untuk menganalisa bagaimana pengaruh profil pelaku terhadap perbuatan jahatnya
2. Ciri-ciri pembunuh berantai Mengingat tidak adanya daftar ciri yang menggambarkan semua pembunuh berantai maka terhadap kasus pembunuhan ibu dan anak yang dilakukan oleh Rahmat tidak bisa dikategorikan sebagai pembunuh berantai. Berdasarkan hasil penelitian dimana disebutkan bahwa terdapat pola berulang pada pembunuh berantai maka terhadap kasus pembunuhan tersebut pun tidak bisa dikategorikan sebagai kasus pembunuhan berantai. Pembunuhan yang dilakukan Rahmat terhadap Hartati semata-mata merupakan tindakan yang diambil Rahmat sebagai wujud ketidaksiapan Rahmat bertanggung jawab atas perbuatannya untuk memenuhi tuntutan Hartati yang hamil anak hasil hubungan gelap keduanya.
3. Otopsi psikologis Dari sisi otopsi psikologis, penulis tidak mendapatkan informasi tentang keadaan psikologis Hartati sebelum kematiannya sementara analisis psikologis seperti otopsi harus bersandar pada sumber-sumber bukti yang tidak begitu langsung, misalnya semua catatan yang ditinggalkan oleh almarhumah (surat, e-mail, entri jurnal, rekaman suara atau gambar, rekening bank, catatan mahasiswa atau catatan pegawai), maupun data tentang Hartati yang diperoleh dari teman, anggota keluarga, atau teman kerja yang melakukan kontak dengan almarhumah sebelum kematiannya. Hal ini bertujuan untuk merekonstruksikan keadaan emosional, kepribadian, pikiran-pikiran dan gaya hidup almarhumah.
4. Sindroma Dari kasus pembunuhan ibu dan anak tersebut, penulis tidak mendapat informasi tentang sindroma yang diderita Hartati. Penulis tidak dapat gambaran reaksi-reaksi psikologis Hartati mengingat yang bersangkutan telah meninggal dunia. Dari sisi profil tersangka pun, penulis tidak mendapat informasi secara lengkap bagaimana karakter dan perilaku sehari-hari Rahmat sehingga timbul kesulitan untuk menganalisa bagaimana pengaruh profil pelaku terhadap perbuatan jahatnya
FMNR Sem 3 13
ANALISA PSIKOLOGI Terhadap
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
tersebut. Akibat perbuatannya tersebut, Rahmat dijerat dengan tuduhan pasal 340 KUHP
tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati. Sementara itu, Kris yang membantu Rahmat pun ikut ditetapkan sebagai tersangka. Barang bukti yang disita polisi, antara lain: sebilah pisau dapur, karpet berlumur darah, kardus televisi, koper, telepon genggam milik Hertati, HP milik Rahmat serta motor.
tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati. Sementara itu, Kris yang membantu Rahmat pun ikut ditetapkan sebagai tersangka. Barang bukti yang disita polisi, antara lain: sebilah pisau dapur, karpet berlumur darah, kardus televisi, koper, telepon genggam milik Hertati, HP milik Rahmat serta motor.
FMNR Sem 3 14
ANALISA PSIKOLOGI Terhadap
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
BAB IV
KESIMPULAN
Kasus pembunuhan yang menimpa Hartati maupun anaknya bisa jadi menimpa siapa saja dan dilakukan oleh siapa saja tak terkecuali oleh orang terdekat yang memiliki hubungan asmara. Oleh karena itu kita semestinya berhati-hati dan waspada terhadap orang asing yang menjalin hubungan dengan kita. Janganlah dengan bujuk rayu alasan cinta, kita rela memberikan diri dan kehormatan untuk laki-laki yang tidak berhak. Hal ini sebagai upaya untuk berjaga-jaga agar terhindar dari peristiwa kejahatan tersebut.
Berdasarkan uraian yang telah penulis kemukakan mengenai kasus pembunuhan, teori-teori psikologi yang penulis gunakan sebagai dasar analisa maupun analisis tehadap kasus tersebut, berikut ini penulis simpulkan bahwa:
1. Penulis menggunakan pendekatan psikologis untuk mengetahui alasan mengapa pelaku tega melakukan pembunuhan pada korban yang notabene adalah orang yang ada jalinan asmara dengan pelaku.
2. Berdasarkan teknik-teknik criminal profiling (profiling kriminal) yang dipelopori oleh Unit Profiling and Behavioral Assessment (Profiling dan Pengukuran Perilaku) FBI yang dahulu disebut Behavioral Science Unit (Unit Ilmu Perilaku) di Quantico, Virginia, pembunuh berantai diartikan sebagai pembunuh yang membunuh tiga orang atau lebih pada waktu yang berbeda, dengan periode ‘pendinginan’ di antara peristiwa pembunuhan yang satu dengan peristiwa pembunuhan berikutnya maka kasus pembunuhan ibu dan anak yang dilakukan oleh pelaku bukan merupakan kasus pembunuhan berantai.
3. Dalam kasus tersebut, pelaku melakukan pembunuhan terhadap korban (Hartati) dan anaknya ER dalam waktu yang hampir bersamaan tanpa ada periode pendinginan antara pembunuhan terhadap Hartati dan pembunuhan terhadap ER.
4. Kasus pembunuhan tersebut diawali adanya permintaan Hartati kepada Rahmat untuk bertanggung jawab atas kehamilan Hartati yang memasuki usia kandungan 3 minggu.
5. Pembunuhan terhadap Hartati dilakukan oleh Rahmat sebagai wujud ketidaksiapan Rahmat untuk bertanggung jawab terhadap kehamilan Hartati. Hal ini bisa jadi karena faktor ekonomi, mengingat pekerjaan Rahmat yang hanya
Berdasarkan uraian yang telah penulis kemukakan mengenai kasus pembunuhan, teori-teori psikologi yang penulis gunakan sebagai dasar analisa maupun analisis tehadap kasus tersebut, berikut ini penulis simpulkan bahwa:
1. Penulis menggunakan pendekatan psikologis untuk mengetahui alasan mengapa pelaku tega melakukan pembunuhan pada korban yang notabene adalah orang yang ada jalinan asmara dengan pelaku.
2. Berdasarkan teknik-teknik criminal profiling (profiling kriminal) yang dipelopori oleh Unit Profiling and Behavioral Assessment (Profiling dan Pengukuran Perilaku) FBI yang dahulu disebut Behavioral Science Unit (Unit Ilmu Perilaku) di Quantico, Virginia, pembunuh berantai diartikan sebagai pembunuh yang membunuh tiga orang atau lebih pada waktu yang berbeda, dengan periode ‘pendinginan’ di antara peristiwa pembunuhan yang satu dengan peristiwa pembunuhan berikutnya maka kasus pembunuhan ibu dan anak yang dilakukan oleh pelaku bukan merupakan kasus pembunuhan berantai.
3. Dalam kasus tersebut, pelaku melakukan pembunuhan terhadap korban (Hartati) dan anaknya ER dalam waktu yang hampir bersamaan tanpa ada periode pendinginan antara pembunuhan terhadap Hartati dan pembunuhan terhadap ER.
4. Kasus pembunuhan tersebut diawali adanya permintaan Hartati kepada Rahmat untuk bertanggung jawab atas kehamilan Hartati yang memasuki usia kandungan 3 minggu.
5. Pembunuhan terhadap Hartati dilakukan oleh Rahmat sebagai wujud ketidaksiapan Rahmat untuk bertanggung jawab terhadap kehamilan Hartati. Hal ini bisa jadi karena faktor ekonomi, mengingat pekerjaan Rahmat yang hanya
FMNR Sem 3 15
ANALISA PSIKOLOGI Terhadap
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
sebagai karyawan di pabrik jok mobil di Sunter atau bisa jadi karena faktor psikologis lain seperti: malu, takut atau khawatir bahwa dia telah melakukan perbuatan tercela (menghamili Hartati tanpa ikatan pernikahan). Untuk menutupi rasa malu, takut dan khawatir tersebut maka Rahmat merencanakan pembunuhan terhadap Hartati.
6. Pembunuhan yang dilakukan Rahmat terhadap ER merupakan tindakan impulsif Rahmat untuk menghilangkan jejak/ mengamankan perbuatannya mengingat ER melihat kejadian yang menimpa ibunya. Tindakan Rahmat membakar mayat ER mungkin dimaksudkan untuk menunjukkan pada orang lain/ masyarakat sekitar yang melihatnya bahwa kematian ER karena kebakaran.
7. Dari aspek signature, Rahmat melakukan hubungan intim dengan Hartati sebelum akhirnya membunuh wanita tersebut. Hal ini mungkin saja dilakukan Rahmat untuk menghilangkan kecurigaan Hartati pada niat jahatnya. Aktivitas seksual tersebut bisa jadi merupakan aktivitas yang sering mereka berdua lakukan ketika keduanya bertemu mengingat terjadinya kehamilan pada Hartati.
8. Mengingat tidak adanya daftar ciri yang menggambarkan semua pembunuh berantai maka terhadap kasus pembunuhan ibu dan anak yang dilakukan oleh Rahmat tidak bisa dikategorikan sebagai pembunuh berantai. Berdasarkan hasil penelitian dimana disebutkan bahwa terdapat pola berulang pada pembunuh berantai maka terhadap kasus pembunuhan tersebut pun tidak bisa dikategorikan sebagai kasus pembunuhan berantai.
9. Pembunuhan yang dilakukan Rahmat terhadap Hartati semata-mata merupakan tindakan yang diambil Rahmat sebagai wujud ketidaksiapan Rahmat bertanggung jawab atas perbuatannya untuk memenuhi tuntutan Hartati yang hamil anak hasil hubungan gelap keduanya.
10. Dari sisi otopsi psikologis, penulis tidak mendapatkan informasi tentang keadaan psikologis Hartati sebelum kematiannya sementara analisis psikologis seperti otopsi harus bersandar pada sumber-sumber bukti yang tidak begitu langsung, misalnya semua catatan yang ditinggalkan oleh almarhumah (surat, e-mail, entri jurnal, rekaman suara atau gambar, rekening bank, catatan mahasiswa atau catatan pegawai), maupun data tentang Hartati yang diperoleh dari teman, anggota keluarga, atau teman kerja yang melakukan kontak dengan almarhumah sebelum kematiannya. Hal ini bertujuan untuk merekonstruksikan keadaan emosional,
6. Pembunuhan yang dilakukan Rahmat terhadap ER merupakan tindakan impulsif Rahmat untuk menghilangkan jejak/ mengamankan perbuatannya mengingat ER melihat kejadian yang menimpa ibunya. Tindakan Rahmat membakar mayat ER mungkin dimaksudkan untuk menunjukkan pada orang lain/ masyarakat sekitar yang melihatnya bahwa kematian ER karena kebakaran.
7. Dari aspek signature, Rahmat melakukan hubungan intim dengan Hartati sebelum akhirnya membunuh wanita tersebut. Hal ini mungkin saja dilakukan Rahmat untuk menghilangkan kecurigaan Hartati pada niat jahatnya. Aktivitas seksual tersebut bisa jadi merupakan aktivitas yang sering mereka berdua lakukan ketika keduanya bertemu mengingat terjadinya kehamilan pada Hartati.
8. Mengingat tidak adanya daftar ciri yang menggambarkan semua pembunuh berantai maka terhadap kasus pembunuhan ibu dan anak yang dilakukan oleh Rahmat tidak bisa dikategorikan sebagai pembunuh berantai. Berdasarkan hasil penelitian dimana disebutkan bahwa terdapat pola berulang pada pembunuh berantai maka terhadap kasus pembunuhan tersebut pun tidak bisa dikategorikan sebagai kasus pembunuhan berantai.
9. Pembunuhan yang dilakukan Rahmat terhadap Hartati semata-mata merupakan tindakan yang diambil Rahmat sebagai wujud ketidaksiapan Rahmat bertanggung jawab atas perbuatannya untuk memenuhi tuntutan Hartati yang hamil anak hasil hubungan gelap keduanya.
10. Dari sisi otopsi psikologis, penulis tidak mendapatkan informasi tentang keadaan psikologis Hartati sebelum kematiannya sementara analisis psikologis seperti otopsi harus bersandar pada sumber-sumber bukti yang tidak begitu langsung, misalnya semua catatan yang ditinggalkan oleh almarhumah (surat, e-mail, entri jurnal, rekaman suara atau gambar, rekening bank, catatan mahasiswa atau catatan pegawai), maupun data tentang Hartati yang diperoleh dari teman, anggota keluarga, atau teman kerja yang melakukan kontak dengan almarhumah sebelum kematiannya. Hal ini bertujuan untuk merekonstruksikan keadaan emosional,
FMNR Sem 3 16
ANALISA PSIKOLOGI Terhadap
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
KASUS PEMBUNUHAN IBU Dan ANAK
kepribadian, pikiran-pikiran dan gaya hidup almarhumah. 11. Dari kasus pembunuhan ibu dan anak tersebut, penulis tidak mendapat informasi
tentang sindroma yang diderita Hartati. Penulis tidak dapat gambaran reaksi-reaksi psikologis Hartati mengingat yang bersangkutan telah meninggal dunia.
12. Dari sisi profil tersangka pun, penulis tidak mendapat informasi secara lengkap bagaimana karakter dan perilaku sehari-hari Rahmat sehingga timbul kesulitan untuk menganalisa bagaimana pengaruh profil pelaku terhadap perbuatan jahatnya tersebut.
Demikian uraian singkat tentang “Analisa Psikologi Terhadap Kasus Pembunuhan Ibu dan Anak”.
tentang sindroma yang diderita Hartati. Penulis tidak dapat gambaran reaksi-reaksi psikologis Hartati mengingat yang bersangkutan telah meninggal dunia.
12. Dari sisi profil tersangka pun, penulis tidak mendapat informasi secara lengkap bagaimana karakter dan perilaku sehari-hari Rahmat sehingga timbul kesulitan untuk menganalisa bagaimana pengaruh profil pelaku terhadap perbuatan jahatnya tersebut.
Demikian uraian singkat tentang “Analisa Psikologi Terhadap Kasus Pembunuhan Ibu dan Anak”.
Semoga Bermanfaat.***
FMNR Sem 3 17
Tidak ada komentar:
Posting Komentar